Alat bukti hukun perdata


Alat bukti adalah segala sesuatu yang oleh undang-undang
ditetapkan dapat dipakai membuktikan sesuatu. Alat bukti
disampaikan dalam persidangan pemeriksaan perkara dalam
tahap pembuktian. Pembuktian adalah upaya yang
dilakukan para pihak dalam berperkara untuk menguatkan
dan membuktikan dalil-dalil yang diajukan agar dapat
meyakinkan hakim yang memeriksa perkara.
Yang harus dibuktikan dalam sidang adalah segala sesuatu
yang didalilkan disangkal atau dibantah oleh pihak lawan.
Yang tidak perlu dibuktikan adalah segala sesuatu yang
diakui, dibenarkan, tidak dibantah pihak lawan, segala
sesuatu yang dilihat oleh hakim, dan segala sesuatu yang
merupakan kebenaran yang bersifat umum.
Alat bukti yang sah dan dapat dipergunakan untuk
pembuktian adalah sebagai berikut.
1. Bukti surat.
2. Bukti saksi.
3. Persangkaan.
4. Pengakuan.
5. Sumpah.
BUKTI SURAT
Bukti surat adalah bukti yang berupa tulisan yang berisi
keterangan tentang suatu peristiwa, keadaan, atau hal-hal
tertentu. Dalam hukum acara perdata dikenal 3 (tiga)
macam surat sebagai berikut.
Pertama, Surat biasa , yaitu surat yang dibuat tidak dengan
maksud untuk dijadikan alat bukti. Seandainya surat biasa
dijadikan bukti maka hanya suatu kebetulan saja. Yang
termasuk surat biasa adalah surat cinta, surat-surat yang
berhubungan dengan korespondensi, dan lain-lain.
Kedua , Akta otentik , yaitu akta yang dibuat oleh atau di
hadapan pejabat yang berwenang. Akta otentik mempunyai
kekuatan pembuktian yang sempurna sepanjang tidak dapat
dibuktikan lain. Akta otentik misalnya Kutipan Akta Nikah,
Akta Kelahiran, Akta Cerai, dan lain-lain.
Ketiga , Akta di bawah tangan, yaitu akta yang tidak dibuat
oleh atau di hadapan pejabat yang berwenang. Kekuatan
pembuktian akta di bawah tangan mempunyai kekuatan
pembuktian yang sempurna apabila isi dan tanda tangan
diakui oleh para pihak, apabila isi dan tanda tangan yang
ada tidak diakui maka pihak yang mengajukan bukti harus
menambah dengan bukti lain misalnya saksi.
Dalam praktik beracara di pengadilan bukti surat yang akan
digunakan sebagai bukti di persidangan di foto copy lalu
dibubuhi meterai yang cukup dan dilegalisasi di Kantor Pos
kemudian didaftarkan di Kepaniteraan pengadilan untuk
dilegalisasi dan baru dapat diajukan ke sidang pengadilan
kepada majelis hakim dan dicocokkan dengan aslinya jika
sesuai dengan aslinya maka dapat digunakan sebagai bukti
yang sah. Apabila ternyata tidak cocok dengan aslinya atau
tidak ada aslinya maka tidak mempunyai kekuatan
pembuktian sama sekali. Para pihak yang berperkara berhak
untuk minta diperlihatkan bukti surat kepadanya.
BUKTI SAKSI
Saksi adalah orang yang melihat, mendengar, mengetahui,
dan mengalami sendiri suatu peristiwa. Saksi biasanya
dengan sengaja diminta sebagai saksi untuk menyaksikan
suatu peristiwa dan ada pula saksi yang kebetulan dan
tidak sengaja menyaksikan suatu peristiwa.
Syarat-syarat saksi yang diajukan dalam pemeriksaan
persidangan adalah sebagai berikut.
– Saksi sebelum memberikan keterangan disumpah menurut
agamanya.
– Yang dapat diterangkan saksi adalah apa yang dilihat,
didengar,
diketahui, dan dialami sendiri.
– Kesaksian harus diberikan di depan persidangan dan
diucapkan secara pribadi.
– Saksi harus dapat menerangkan sebab-sebab sampai
dapat memberikan keterangan.
– Saksi tidak dapat memberikan keterangan yang berupa
pendapat, kesimpulan, dan perkiraan dari saksi.
– Kesaksian dari orang lain bukan merupakan alat bukti
( testimonium de auditu).
– Keterangan satu orang saksi saja bukan merupakan alat
bukti ( unus testis nullus testis). Satu saksi harus didukung
dengan alat bukti lain.
Yang tidak dapat dijadikan saksi adalah sebagai berikut.
– Keluarga sedarah dan keluarga semenda menurut
keturunan yang lurus dari salah satu pihak.
– Suami atau istri salah satu pihak meskipun telah bercerai.
– Anak-anak yang umurnya tidak diketahui dengan benar
bahwa mereka telah berumur 15 (lima belas) tahun.
– Orang gila walaupun kadang-kadang ingatannya terang.
Keluarga sedarah dan keluarga semenda dapat didengar
keterangannya dan tidak boleh ditolak dalam perkara-
perkara mengenai kedudukan perdata antara kedua belah
pihak.
Anak-anak yang belum dewasa dan orang gila dapat
didengar keterangannya tanpa disumpah. Keterangan
mereka hanya dipakai sebagai penjelasan saja.
Saksi yang boleh mengundurkan diri untuk memberikan
keterangan sebagai saksi adalah sebagai berikut.
– Saudara laki-laki dan saudara perempuan, ipar laki-laki
dan ipar perempuan dari salah satu pihak.
– Keluarga sedarah menurut keturunan yang lurus dari
saudara laki-laki dan perempuan, serta suami atau istri
salah satu pihak.
– Orang yang karena jabatannya atau pekerjaannya yang
diwajibkan untuk menyimpan rahasia.
PERSANGKAAN
Persangkaan adalah kesimpulan yang ditarik oleh undang-
undang atau majelis hakim terhadap suatu peristiwa yang
terang, nyata, ke arah peristiwa yang belum terang
kenyataannya. Dengan kata lain persangkaan adalah
kesimpulan yang ditarik dari suatu peristiwa yang sudah
terbukti ke arah peristiwa yang belum terbukti.
Persangkaan dapat dibagi menjadi dua macam
sebagaimana berikut.
a. Persangkaan Undang-Undang
Persangkaan undang-undang adalah suatu peristiwa yang
oleh undang-undang disimpulkan terbuktinya peristiwa lain.
Misalnya dalam hal pembayaran sewa maka dengan adanya
bukti pembayaran selama tiga kali berturut-turut
membuktikan bahwa angsuran sebelumnya telah dibayar.
b. Persangkaan Hakim
Yaitu suatu peristiwa yang oleh hakim disimpulkan
membuktikan peristiwa lain. Misalnya perkara perceraian
yang diajukan dengan alasan perselisihan yang terus
menerus. Alasan ini dibantah tergugat dan penggugat tidak
dapat membuktikannya. Penggugat hanya mengajukan saksi
yang menerangkan bahwa antara penggugat dan tergugat
telah berpisah tempat tinggal dan hidup sendiri-sendiri
selama bertahun-tahun. Dari keterangan saksi hakim
menyimpulkan bahwa telah terjadi perselisihan terus
menerus karena tidak mungkin keduanya dalam keadaan
rukun hidup berpisah dan hidup sendiri-sendiri selama
bertahun-tahun.
PENGAKUAN
Pengakuan terhadap suatu peristiwa yang didalilkan
dianggap telah terbukti adanya peristiwa yang didalilkan
tersebut. Pengakuan ada dua macam sebagai berikut.
a. Pengakuan di depan sidang .
Pengakuan di depan sidang adalah pengakuan yang
diberikan oleh salah satu pihak dengan membenarkan/
mengakui seluruhnya atau sebagian saja. Pengakuan di
depan sidang merupakan pembuktian yang sempurna.
Pengakuan di depan sidang tidak dapat ditarik kembali
kecuali pengakuan yang diberikan terdapat suatu kekhilafan
mengenai hal-hal yang terjadi. Pengakuan dapat berupa
pengakuan lisan dan tertulis, pengakuan dalam jawaban
dipersamakan pengakuan lisan di depan persidangan.
b. Pengakuan di luar sidang .
Pengakuan di luar baik secara tertulis maupun lisan
kekuatan pembuktiannya bebas tergantung pada penilaian
hakim yang memeriksa. Pengakuan di luar sidang secara
tertulis tidak perlu pembuktian tentang pengakuannya.
Pengakuan di luar sidang secara lisan memerlukan
pembuktian atas pengakuan tersebut.
S U M P A H
Sumpah adalah pernyataan yang diucapkan dengan resmi
dan dengan bersaksi kepada Tuhan oleh salah satu pihak
yang berperkara bahwa apa yang dikatakan itu benar.
Apabila sumpah diucapkan maka hakim tidak boleh
meminta bukti tambahan kepada para pihak.
Sumpah terdiri dari:
a. Sumpah promissoir
Sumpah promissoir yaitu sumpah yang isinya berjanji untuk
melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
b. Sumpah confirmatoir
Sumpah confirmatoir yaitu sumpah yang berisi keterangan
untuk meneguhkan sesuatu yang benar.
Sumpah confirmatoir terdiri dari:
– Sumpah supletoir
Sumpah supletoir atau sumpah pelengkap atau sumpah
penambah yaitu sumpah yang dibebankan oleh hakim
kepada para pihak untuk melengkapi dan menambah
pembuktian. Sumpah pelengkap harus ada bukti terlebih
dahulu namun bukti belum lengkap sedangkan untuk
mendapatkan bukti lain tidak mungkin. Sumpah pelengkap
dibebankan kepada para pihak oleh hakim karena
jabatannya.
– Sumpah decisoir
Sumpah decisoir atau sumpah pemutus adalah sumpah
yang dibebankan oleh salah satu pihak kepada pihak
lawannya. Sumpah pemutus dimohonkan kepada majelis
hakim oleh salah satu pihak agar pihak lawan mengangkat
sumpah. Sumpah pemutus dikabulkan hakim apabila tidak
ada alat bukti sama sekali. Sumpah pemutus dapat
dikembalikan kepada pihak lain yang meminta apabila
mengenai perkara timbal balik. Apabila salah satu pihak
berani mengangkat sumpah maka pihak yang mengangkat
sumpah perkaranya dimenangkan.
– Sumpah aestimatoir
Sumpah asstimatoir yaitu sumpah yang dibebankan hakim
kepada penggugat untuk menentukan jumlah kerugian.

Pos ini dipublikasikan di psht. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s