8 mutiara Hatim


“Apakah aku harus menebar mutiara di tempat penggembalaan binatang, dan menata apa yang sudah ditebar bagi penggembala? Siapa yang menyampaikan ilmu kepada orang-orang yang bodoh, maka akan menyia-nyiakan ilmu itu, dan siapa yang tidak menyampaikan ilmu kepada orang yang layak menerimanya maka dia telah berbuat dzhalim.” (Imam Asy-Syafi’ie)

Ilmu adalah mata pencaharian paling utama, gelar paling mulia, simpanan paling berharga, dan buah termanis yang dapat dipetik, tidak ada seorang ‘pekerja’pun yang mendapatkan ‘gaji’ yang lebih berharga dari ilmu yang dapat menuntunnya ke jalan yang benar serta menyelamatkannya dari kesesatan. Barang siapa yang dimudahkan menuntut ilmu niscaya Allah Ta’ala akan memudahkan jalannya menuju surga.

Para salafuhs shalih tiada pernah menyia-nyiakan waktunya melainkan hanya untuk ilmu. Demikian halnya dengan kisah sarat hikmah dari Hatim rahimahullah. Diriwayatkan dari Syaqiq Al-Balkhy rahimahullah, bahwa dia pernah bertanya kepada Hatim: “Sudah berapa lama engkau menyertai aku. Lalu apa saja pelajaran yang bisa engkau serap?”

Hatim menjawab: “Ada delapan macam:

1. Aku suka mengamati manusia. Ternyata setiap orang ada yang dicintainya. Namun jika dia sudah dibawa kekuburannya, toh dia harus berpisah dengan sesuatu yang dicintainya. Maka kujadikan yang kucintai adalah kebaikanku, agar kebaikanku itu tetap menyertaiku di kuburan.

Jiwa manusia akan menjadi baik jika mereka senantiasa ingat akan tempat kembalinya. Jika seorang hamba ingat bahwa ia akan berbantalkan tanah sendirian dalam kuburnya tanpa ada teman yang menghiburnya, tanpa disertai orang yang dicintainya; ingat bahwa tidak ada yang berguna selain amal shalihnya, ingat bahwa seluruh manusia tidak berdaya meringankan sedikitpun siksa kubur darinya, ingat bahwa seluruh urusannya berada di tangan Allah Ta’ala, ketika itulah ia yakin bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkannya kecuali dengan mengikhlaskan seluruh amalnya hanya kepada Allah semata, Dzat Yang Maha Berdiri Sendiri.

Kebaikan adalah sesuatu yang sangat berguna bagi setiap jiwa kelak di akhirat. Semua jiwa akan berpisah dengan apa yang menyertainya tatkala di dunia kecuali 3 hal, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa’ala alihi wasallam,

“Jika seseorang mati maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendo’akannya.” (HR.Muslim).

Salah satu contoh kebaikan adalah amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan untuk melakukan kebaikan dan melarang dari kemungkaran). Ini merupakan bentuk peningkatan derajat seseorang dan perbuatan baik kepada orang lain. Eksistensinya akan menjamin kesejahteraan umat, melanggengkan setiap kenikmatan, menyebarkan rasa aman, menjamin terijabahnya do’a dan menolak segala makar dan tipu daya musuh. Melalui hal ini segala budi pekerti dan sifat mulia tumbuh berkembang di masyarakat, diiringi dengan surutnya setiap dosa dan kemungkaran.

2. Kurenungi firman Allah subhanahu wa ta’ala, “… dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu.” (QS. An-Nazi’at: 40). Maka sebisa mungkin aku mengenyahkan hawa nafsu, hingga jiwaku menjadi tenang karena taat kepada Allah Azza wa Jalla.

Hawa nafsu merupakan faktor terbesar yang menghalangi hati untuk sampai kepada Allah Ta’ala, sehingga dalam hal ini manusia dikelompokkan dalam dua kriteria, yakni pertama, manusia yang dikalahkan, dikuasai dan dihancurkan oleh hawa nafsunya. Ia benar-benar tunduk di bawah perintahnya. Kedua, manusia yang berhasil memenangkan pertarungan melawannya. Ia mampu mengekangnya, menundukkannya dan nafsu pun tunduk di bawah perintahnya.

Amirul mukminin Ali Bin Abi Thalib berkata: “Medanmu yang pertama adalah nafsumu. Jika kamu menang atasnya maka kamu atas yang selainnya lebih mampu. Dan jika kamu kalah di dalamnya, niscaya kamu atas yang selainnya lebih kalah lagi, maka cobalah mengalahkan nafsumu terlebih dahulu.”

Setiap mukmin mempunyai jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah). Dia tenang di pintu ma’rifah terhadap asma’ dan sifat Allah Ta’ala dengan berdasarkan kabar dari Al Qur’an dan As Sunnah. Dia tentram atas takdir Allah Ta’ala, menerima dan meridhainya, tidak benci dan berkeluh kesah, tidak pula terguncang keimanannya, tidak berputus asa atas sesuatu yang lepas darinya, pun tidak berbangga atas apa yang dimilikinya, sebab semua musibah dan kenikmatan telah ditakdirkan oleh-Nya jauh sebelum musibah dan kenikmatan itu sampai kepadanya, bahkan sebelum ia diciptakan.

3. Setelah kuamati aku tahu bahwa setiap orang mempunyai sesuatu yang bernilai dalam pandangannya, lalu dia pun akan menjaganya. Kemudian kuamati firman Allah Ta’ala: “Apa yang di sisi kalian akan lenyap dan apa yang di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An-Nahl: 96). Oleh karenanya, setiap kali aku mempunyai sesuatu yang berharga, maka aku segera menyerahkannya kepada Allah Ta’ala, agar dia kekal di sisi-Nya.

Setiap pakaian yang kita gunakan pasti akan hancur, makanan yang kita makan akan habis, kecuali harta yang kita nafkahkan di jalan Allah Ta’ala, itulah hakekat harta yang kita miliki. Shadaqah ibarat benteng antara seseorang dengan api neraka. Orang yang ikhlas dan menyembunyikan shadaqahnya akan mendapat naungan pada hari kiamat tat kala tiada naungan selain naungan Allah Azza wa Jalla. Kemudian ia dipanggil untuk memasuki Baabus Shadaqah –salah satu pintu surga untuk orang-orang yang gemar bershadaqah-.

Orang yang bakhil (kikir) seakan terkurung dari semua amal sosial, terhalang dari banyak kebaikan, dan tidak pernah merasa lega. Dadanya sempit dan nafasnya pun sesak, ia jarang terlihat senang dan selalu dirundung kesedihan, hajatnya hampir tidak pernah terlaksana dan hampir tiada seorangpun sudi menolongnya. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9).

Seorang penyantun yang beriman akan dekat kepada Allah Ta’ala dan dicintai manusia dan kaum kerabatnya. Ia dekat dengan surga dan jauh dari api neraka. Namun orang yang kikir pasti dijauhi manusia. Ia pun dekat dengan neraka dan jauh dari surga.

4. Kulihat banyak orang yang kembali kepada harta, keturunan, kemuliaan dan kedudukannya. Padahal semua ini tidak ada artinya apa-apa. Lalu kuamati firman Allah Azza wa Jalla, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13). Karena itu aku beramal dalam lingkup takwa, agar aku menjadi mulia di sisi-Nya.

Kebanyakan dari manusia sangat berbangga atas harta yang mereka miliki, keturunan yang ia punyai serta pangkat, jabatan dan kedudukan yang ia dapatkan. Mereka menilai segala sesuatu berdasarkan ketiga hal tersebut. Seseorang akan dinilai mulia jika di dalam dirinya terdapat salah satu atau ketiga hal tersebut. Mempunyai rumah mewah dan mobil mengkilat adalah suatu kepastian bagi mereka bahwa dia adalah orang yang paling mulia, meskipun ia senantiasa bergelimang dalam kemaksiatan. Lain halnya dengan orang yang miskin papa, walaupun ia orang yang ahli ilmu dan ibadah, mereka menilai bahwa ia adalah orang yang paling hina di dunia ini. Sungguh suatu yang sangat terbalik keadaannya.

Dunia adalah sesuatu yang sangat hina di hadapan Allah Ta’ala. Seandainya di dunia ada kemuliaan seberat sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberikan minum setetespun kepada orang kafir. Demikian halnya perumpamaan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ala alihi wasallam tentang dunia yang diibaratkan dengan bangkai kambing yang cacat, tidak berharga sama sekali.

Takwa adalah segala-galanya. Dengannya Allah akan mencintai dan meridhainya. Allah Ta’ala akan memberikan solusi dari setiap permasalahan yang menimpa manusia jika mereka bertakwa. Tiadalah kebaikan yang paling baik melainkan bertakwa kepada Rabb yang Maha Pencipta, Pengatur dan Maha Memiliki.

5. Kulihat manusia sering iri dan dengki. Lalu kuamati firman Allah Ta’ala: “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (QS. Zukhruf: 32). Karena itu kutinggalkan sifat iri dan dengki.

Hasad merupakan salah satu penyakit hati. Ia adalah penyakit yang banyak menjangkiti mereka yang saling bersaing; baik karena kebencian salah seorang dari mereka atas yang lain, atau karena yang satu lebih unggul dari pesaingnya. Hasad termasuk salah satu celah pintu masuk syetan yang sangat berbahaya, selain itu ia juga merupakan salah satu sifat tercela orang Yahudi.

Hasad adalah suatu bentuk penentangan terhadap Allah Ta’ala, karena orang yang hasad tidak suka terhadap nikmat Allah yang Dia berikan kepada salah seorang hamba-Nya. Hal ini dikarenakan Allah Ta’ala menyukai nikmat yang Dia berikan kepada hamba-Nya tadi, sedang si pendengki menginginkan hilangnya nikmat tersebut, maka ia telah menentang takdir Allah Azza wa Jalla, dan menentang apa yang Allah suka dan yang Allah benci.

Ibnul Qayyim mengatakan: “Di antara masalah yang paling berat dan sulit bagi hawa nafsu, yang hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang mendapat karunia besar dari Allah Ta’ala adalah memadamkan kedengkian si pendengki yang jahat dan selalu mengganggu, dengan berbuat baik kepadanya. Jadi semakin bertambah kedengkian, kejahatan, dan gangguannya, Anda justru harus bertambah baik kepadanya, bertambah prihatin dan semakin gigih menasehatinya.”

6. Kulihat manusia saling bermusuhan. Lalu kuamati firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya syetan itu musuh bagi kalian, maka anggaplah ia musuh (kalian).” (QS. Fathir: 6). Karena itu aku tidak mau bermusuhan dengan mereka dan hanya syetan semata yang kujadikan musuh.

Tiadalah kewaspadaan yang sangat harus dimiliki kecuali terhadap syetan. Waspada terhadap segala gangguannya, waspada terhadap segala tipu dayanya dan waspada terhadap segala makarnya. Ia tidak akan pernah berhenti hingga manusia mengikuti jalan kesesatannya. Ia benar-benar musuh yang sangat pantas untuk dimusuhi, karena ia-lah sumber dari permusuhan.

Manusia saling bermusuhan tak lain hanyalah akibat sulutan api yang dikobarkan oleh syetan. Pun mereka akan berbaikan jika mereka mau menyiramkan air kepada api yang dipercikkan oleh syetan. Oleh karenanya, tiadalah gunanya jika harus bermusuhan dengan manusia jika semua itu disebabkan oleh syetan. Hendaknya pertemanan dan permusuhan di antara manusia tak lain haruslah karena Allah Ta’ala, bukan karena yang lain agar syetan tertutup untuk membalikkan keadaan. Yang seharusnya menjadi musuh dijadikan teman dan yang seharusnya menjadi teman dijadikan musuh.

7. Kulihat manusia menghinakan diri mereka untuk mencari rezeki. Lalu aku amati firman Allah Ta’ala: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberinya rezeki.” (QS. Hud: 6). Karena itu aku menyibukkan diri dalam perkara yang memang menjadi kewajibanku dan kutinggalkan apa yang menjadi hakku di sisi-Nya.

Bekerja untuk mencari rezeki telah menjadi pemikiran kebanyakan manusia; dari si Kecil yang ‘menyanyikan’nya sampai si Tua yang masih terus mengejarnya. Demikian pula sebagian besar problematika kehidupan, topik pembicaraan dan berbagai kejadian, selalu saja berputar dalam persoalan yang bernama ‘mencari rezeki’. Namun demikian, seorang mukmin yang cerdas senantiasa mengembalikan urusan rezeki tersebut kepada ‘si empunya’ rezeki, yakni Allah subhanahu wa ta’ala.

Rezeki yang sudah ditetapkan menjadi bagian kita, maka ia akan pasti sampai kepada kita dalam kondisi selemah apapun; demikian sebaliknya. Oleh karenanya janganlah terlalu membuang-buang waktu dan susah-susah memikirkan rezeki yang sudah dijamin untuk kita. Jangan hanya karena mencari rezeki kita menghinakan diri dengan melakukan segala cara untuk mendapatkannya, sehingga ada ungkapan nista yang muncul akhir-akhir ini: “Cari yang haram saja susah apalagi yang halal.”

Seorang mukmin yang tangguh adalah ia tetap berusaha mengais rezeki yang disediakan Allah Ta’ala tanpa mengabaikan tawakkal kepada-Nya. Janganlah terlalu ambisius dalam mewujudkan keinginan, karena yang demikian itu dapat mengeluarkan seseorang dari koridor tawakkal. Tatkala manusia tamak untuk merealisasikan keinginannya, maka manusia akan percaya 100% atas segala usahanya dan lupa berserah diri.

Ingatlah, kadangkala Allah Ta’ala menutup suatu jalan bagi manusia lantaran hikmah-Nya, namun Dia akan membuka jalan lain yang lebih bermanfaat bagi kita dikarenakan rahmat dan karunia-Nya. Maka barangsiapa yang ingin menjadi orang yang paling tangguh, hendaklah ia bertawakkal kepada Allah; dan barangsiapa yang ingin menjadi orang yang paling berkecukupan hendaklah ia lebih percaya terhadap apa yang di tangan Allah daripada apa yang ada di tangannya sendiri.

8. Kuamati mereka mengandalkan perdagangan, usaha dan kesehatan badan mereka. Tapi aku mengandalkan Allah dengan bertawakkal kepada-Nya.

Tawakkal merupakan sebuah tingkat kedudukan (manzilah) yang amat tinggi dari berbagai tingkat kedudukan yang ada dalam Islam. Allah pun menjadikan tawakkal sebagai salah satu sebab untuk mendapatkan kecintaan-Nya. Di dalam sikap tawakkal terkandung ridha Allah yang Maha Penyayang, serta benteng kokoh dari godaan syetan.

Barangsiapa berhasil mewujudkan sikap tawakkal maka ia akan masuk surga tanpa hisab. Adapun nilai-nilai duniawi maka kadangkala justru diperoleh oleh orang yang santai dan justru kadang-kadang luput dari kejaran orang yang sungguh-sungguh; kadangkala ia justru menjadi bagian mereka yang ‘gagal’ dan meleset dari perhitungan mereka yang ‘sukses’, tidak ada yang lebih mendekatkan seseorang dari yang ia tuju tersebut melainkan tawakkal kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Tawakkal membuahkan ketentraman dalam hati, menstabilkan jiwa, melumpuhkan tipu daya musuh, dan ia merupakan sebab utama yang menjadikan seseorang mampu menolak gangguan dan aniaya orang lain yang tidak tertahankan. Dengan tawakkal pula hati seseorang akan merasa tidak butuh terhadap apa yang ada pada orang lain.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Tidaklah seseorang berharap dan bertawakkal kepada suatu makhlukpun, melainkan makhluk itu akan mengecewakan dan memupuskan harapannya; namun barangsiapa menyerahkan segenap urusannya kepada Allah, niscaya ia akan mendapat yang ia cita-citakan.” *)

Demikianlah delapan mutiara hikmah dari Hatim. Semoga kita mampu merenungkannya dan mengamalkan apa yang menjadi buah pelajaran yang dipetik oleh Hatim selama ia menuntut ilmu kepada Syaqiq Al-Balkhy rahimahullahu ta’ala ajma’in.

Pos ini dipublikasikan di psht. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s