THRIPS


 

thrips

Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Subclass : Pterygota
Ordo : Thysanoptera

Hama thrips sangat mudah ditemukan di areal pertanaman. Bentuk tubuhnya langsing dengan panjang 1-2 mm, berwarna hitam dengan bintik-bintik atau garis merah. Telur thrips berbentuk oval. Telur menetas menjadi nimfa, tidak bisa terbang dan hanya meloncat-loncat. Thrips muda (nimfa) biasanya berwarna agak keputihan, kekuningan, hingga kemerahan. Serangga dewasa (imago) berwarna kuning pucat, coklat atau hitam. Thrips akan berubah warna menjadi lebih gelap pada suhu rendah. serangga betina memiliki dua pasang sayap kecil dan terdapat rambut berumbai di bagian samping tubuhnya, sedangkan serangga jantannya tidak bersayap. Thrips memiliki mulut asimetris yang berfungsi untuk menusuk dan menghisap tanaman, terutama pada bagian daun muda, kuncup atau tunas, bunga, dan buah muda. Masing-masing tanaman memiliki ketahanan yang berbeda terhadap spesies thrips, tergantung pada ketebalan epidermisnya.

Bagian tanaman yang dihisap cairannya akan menampakkan bercak berwarna putih keperakan yang selanjutnya bercak berubah warna menjadi kecoklatan. Pada serangan parah, daun tanaman tampak menggulung dan mengeriting. Kebanyakan spesies thrips mengeluarkan embun madu yang berpotensi mengundang datangnya serangan cendawan jelaga.

Pada kelembaban udara 70% dan suhu 27-32°C thrips berkembang biak sangat cepat karena pada kondisi demikian akan memicu produksi homon seks sehingga terjadi perkawinan masal, selain thrips itu sendiri mampu bereproduksi secara partenogenesis. Saat musim kemarau, jumlah populasi meningkat dan akan berkurang bila terjadi hujan lebat. Tekanan air hujan yang besar mampu menghanyutkan thrips. Penyebaran hama thrips dari satu tanaman ke tanaman lain berlangsung sangat cepat dengan bantuan angin maupun manusia.

Karakteristik Beberapa Spesies Thrips Thysanoptera

 

Taeniothrips simplek

Spesies ini memiliki tanaman inang utama gladiol. Nimfa menyerang bunga dan kuncup bunga serta mampu berkembang biak dalam umbi di gudang penyimpanan. Suhu optimal untuk perkembangbiakannya adalah 27°C dengan jumlah telur 130 butir/imago. Siklus hidupnya kurang lebih 33 hari, tetapi jika berada di dalam umbi hanya 10-19 hari.

Thrips tabaci

Thrips tabaci dikenal juga dengan nama onion thrips (thrips bawang), Thrips palmi. Bersifat kosmopolitan (tersebar luas hampir di seluruh dunia) dan polifag (mempunyai tanaman inang yang banyak) dengan jumlah telur 80 butir/imago. Spesies ini memiliki tanaman inang utama cabai, tomat, bawang merah, semangka, kentang, bayam, kapas, tembakau, labu dan tanaman dari famili Cruciferae. Perkembangan optimal terjadi pada kelembaban 70% dan jika merasa terganggu akan bersembunyi di dalam tanah. Pada tanaman bawang merah, spesies ini berkembang sempurna umur 7-12 hari. Merupakan vektor penular virus yang sangat aktif terutama pada tanaman tomat dan cabai.

Thrips parvispinus

Thrips parvispinus bersifat polifag. Tanaman inang utama meliputi tembakau, kopi, kacang panjang dan ubi jalar. Serangan awal terjadi pada daun bagian bawah atau daun tua kemudian akan menjalar ke bagian atas. Berkembang biak optimal saat suhu udara kering dengan siklus hidup satu generasi selama 9 hari. Populasi akan menurun saat musim hujan.

Heliothrips haemorrhoidalis

Spesies ini tidak memiliki tanaman inang utama karena hampir segala jenis tanaman akan diserang, bersifat polifag dan bereproduksi secara patrenogenesis. Perkembangbiakan optimal terjadi pada suhu 26-28°C dengan siklus hidup satu generasi selama 33 hari. Jumlah telur sebanyak 50 butir/imago.

Selenothrips rubrocinctus

Spesies ini memiliki tanaman inang utama yaitu mangga, salam, mete, dan kakao. Habitat utamanya di daerah tropis dan menyerang daun muda.

Dichromothrips smithi

Spesies ini memiliki tanaman inang utama yaitu anggrek (arachnis, cattleya, dendrobium, vanda). Menyerang tangkai daun, tangkai bunga dan petal bunga. Serangan parah terjadi saat musim kemarau.

Baliothrips biformis

Spesies ini memiliki tanaman inang utama yaitu tanaman jagung dan pembibitan padi. Serangnnya menimbulkan efek seperti kekeringan, serta bersifat partenogenesis.

Gejala

Thrips menghisap cairan tanaman melalui daun, pucuk, bunga, dan buah. Serangan pada daun, thrips menyerang dengan cara memakan permukaan bawah daun menggunakan mulut yang telah mengalami modifikasi menjadi penusuk penghisap. Daun tanaman yang dihisap meninggalkan bekas berwarna keperakan sebagai akibat dari jaringan daun yang dihisap cairannya menjadi kosong dan terisi udara. Perpaduan antara udara dan zat besi sebagai salah satu komponen pembentuk klorofil mengakibatkan warna keperakan tersebut berubah menjadi cokelat. Daun terserang akhirnya berkerut dan mengeriting.

Disamping itu, thrips juga bersarang di bunga. Bunga yang terserang akan layu dan gugur karena thrips menghisap cairan kaya karbohidrat dari tangkai bunga yang berperan membentuk kelopak dan polen. Serangan pada buah mengakibatkan buah mengecil dan keriput, karena jaringan dalam buah rusak.

Pos ini dipublikasikan di psht. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s